New Update

Jumat, 06 Mei 2011

Peluang Bisnis Franchise Masih Terbuka Lebar

0 komentar

Tingginya minat masyarakat terhadap dunia wirausaha, mendorong pertumbuhan bisnis di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Kondisi ini ditandai dengan munculnya beragam peluang bisnis baru serta meningkatnya minat pasar terhadap berbagai macam penawaran investasi bisnis, terutama investasi dengan sistem franchise atau waralaba.
Peluang berinvestasi dengan sistem franchise memang sangat menggiurkan, bahkan menurut hasil survey, omset bisnis franchise tahun ini diperkirakan mencapai angka Rp 120 triliun rupiah. Hal inilah yang membuat banyak pihak saling berlomba untuk menekuni bisnis franchise sebagai salah satu peluang usaha yang menjanjikan untung besar. Sehingga beragam jenis usaha dari mulai bisnis makanan dan minuman, bisnis retail, sampai beragam bisnis jasa, telah banyak yang dikembangkan dengan sistem kemitraan franchise (waralaba).

Kamis, 05 Mei 2011

Agus Pramono: Kalau Warung Nggak Digusur, Nggak Akan Punya 15 Gerai...

0 komentar
Sempat malu punya ayah pedagang keliling, saat dewasa Mono justru memilih pekerjaan yang sama. Peruntungan Mono makin bersinar ketika ia menemukan lahan kosong untuk berjualan ayam bakar di pinggir jalan. 


“Di antara tujuh kakak saya, saya mendapat pendidikan paling tinggi. Saya tamat S3, alias SD, SMP, SMA,” kata Agus Pramono, mengawali obrolan siang hari di gerai Ayam Bakar Mas Mono, di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, pertengahan Januari lalu. 

Seperti anak daerah pada umumnya, Mono yang asli Madiun, mencoba peruntungan ke Jakarta. Hanya berbekal ijasah SMA, Mono akhirnya menjadi Office Boy (OB) di salah satu kantor konsultan arsitektur, pada 1999. 

“Jujur, saya malu jadi OB. Tapi, daripada nganggur dan nggak ada pekerjaan lain, saya menjalani pekerjaan tersebut dengan sungguh-sungguh,” kata Mono. 

Hanya dalam tempo satu tahun, Mono sudah menduduki jabatan supervisor. Jabatan itu membuat Mono layaknya pekerja kantoran pada umumnya. Ia punya meja dan tiap pagi ada secangkir teh hangat. “Ini bikin saya merinding,” aku pria kelahiran 28 Agustus 1974 ini. Mono teringat, dahulu dirinya yang menyediakan secangkir teh untuk orang lain, tapi kemudian ia mendapati ada secangkir teh untuk dirinya. 

Meski sudah menjadi pegawai kantoran, Mono merasa ada yang kurang. “Saya ingin menjadi pengusaha,” tegas dia. Di benaknya, entrepreneur memiliki peluang lebih besar untuk menjadi kaya ketimbang menjadi karyawan biasa. 

Pada 2001, Mono memutuskan resign dari pekerjaannya dan menjadi penjual gorengan keliling. “Selain modalnya kecil, gorengan disukai banyak orang,” kata dia, memberi alasan. Sebenarnya, saat anak-anak, ia pernah malu karena ayahnya menjadi pedagang keliling. Ironisnya, sekian tahun kemudian, Mono melakukan hal yang sama. Tentu saja, pilihan tersebut mendapatkan tentangan dari keluarga. Keluarga kecewa karena Mono justru meninggalkan pekerjaan kantoran, yang di mata mereka sudah “wah”. Tapi, Mono tetap teguh pada pendiriannya. 

Ketika mangkal di depan Universitas Sahid di kawasan Tebet, Mono melihat ada lahan kosong di seberang jalan. “Saya langsung action. Saya pikir dagang nasi dan ayam bakar pasti ngasih keuntungan lebih besar daripada sekedar jualan gorengan,” kata Mono.

Singkat cerita, Mono pun memulai usaha ayam bakar di pinggir Jalan Soepomo. Bermodal Rp500.000 ia membeli gerobak dorong, lima ekor ayam, beras, dan peralatan dagang lainnya. Sialnya, di hari pertama jualan, seluruh jualan Mono terjatuh karena gerobak terguling. Tapi, itu tak menyurutkan niatnya untuk berbisnis. 

Benar saja, usaha kaki lima Mono berkembang pesat. Bahkan, suami Nunung Pramono ini mampu mempekerjakan enam karyawan dan menerima pesanan katering ratusan porsi dari beberapa stasiun televisi swasta, setiap harinya. 

Semua berjalan sempurna, hingga suatu hari, Mono mendapati truk-truk trailer berada di sekitar warungnya. “PKL akan digusur, mau ada pembangunan SPBU,” kata dia. 

Sejatinya, sudah lama ia mendengar rencana tersebut. Tapi, tak pernah ada tanda-tanda proyek bakal dimulai. Jadi, Mono tenang-tenang saja. “Saya lalu gerak cepat. Saya tanya ke setiap pelanggan: punya lahan kosong nggak? Saya mau pindah nih, kena gusuran,” kata ayah dari Novita Anung Pramono ini. 

Beruntung, seorang pelanggan menawarinya lahan sempit di Jalan Raya Tebet. Semula, Mono enggan karena lokasinya benar-benar terpencil. Tapi, si empunya lahan, Hajah Bagir, meyakinkan Mono kalau makanan enak pasti dicari. Tepat seperti perkiraan, warung Mono tetap ramai. 

Dan, karena terlalu ramai, Mono lalu mencari tempat untuk gerai keduanya. “Pertimbangan saya mencari lahan untuk gerai kedua bukan atas pertimbangan duit, tapi murni kasihan dengan pelanggan. Mau makan kok harus antre berdiri,” kata dia. Dalam hitungan bulan, Mono memiliki gerai kedua, yang hanya berjarak 10 menit perjalanan dari gerai pertama. 

Setelah pembukaan gerai kedua di Tebet, Mono mengaku ketagihan membuka gerai baru. Kini, dia memiliki 15 gerai Ayam Bakar Mas Mono. Ini belum termasuk gerai-gerai Pecel Lele Lela, Bakso Moncrot, dan Es Teler Panglima. Baru-baru ini, lewat PT Panen Raya Indonesia, dengan menggandeng Hendy “Baba Rafi” Setiono, Mono berencana go international.

Mono mengaku sebagian impiannya sudah terkabul, “Saya akhirnya punya warung yang bisa buka sampai malam, hari libur tetap buka, dan menjual minuman.” Begitu sederhana. (AWN)

BNI Salurkan KUR Pada Pedagang Tradisional

0 komentar

Menurut Wakil Direktur Bank BNI, Felia Salim, Bank BNI terus mendukung pemberdayaan usaha kecil di berbagai pelosok daerah dengan menyalurkan kredit usaha rakyat (KUR) yang hingga akhir Maret 2011, total penyaluran KUR BNI mencapai Rp3,75 triliun yang disalurkan kepada 32.963 debitur. Sementara itu tahun 2011, BNI menargetkan pertumbuhan penyaluran KUR sebesar Rp2,5 triliun.

BNI menyalurkan KUR dengan tiga pola penyaluran, yaitu disalurkan langsung kepada debitor, disalurkan melalui koperasi, dan disalurkan melalui perusahaan inti untuk usaha plasma/binaan. Selama tahun 2010 lalu, BNI yang ditargetkan Pemerintah menyalurkan KUR sebesar Rp1,60 triliun berhasil melampaui yang ditargetkan dengan penyaluran sebesar Rp1,63 triliun atau 101,9 persen dari target kepada 16.257 debitur.

Bisnis Mie, Bisnis Panjang Umur

0 komentar
ama Bakmi Gila justru ngetop di kota-kota besar di luar Jakarta, perlahan tapi pasti Bakmi Gila ingin tampil setara merek-merek besar lainnya. Bangun pondasi yang kuat, setelah siap, saatnya gencar lakukan penetrasi pasar.

Dua sahabat ini sepertinya memang ditakdirkan berjodoh. Bukan dalam hal membina rumah tangga, namun jodoh soal bisnis dan wirausaha. Hendry Ramdhan dan Baihaki Ageng Sela telah bersahabat semenjak duduk di bangku kuliah. Walau mengambil bidang studi yang berbeda, namun ternyata untuk urusan nyali berbisnis, mereka satu tujuan.

Hendry dan Baihaki sudah menjajal bangun usaha kecil-kecilan sejak kuliah, mulai dari jualan minuman seperti jus, sampai melakoni dagang jagung manis yang diberi saos sambal dan mayonaise. Tidak hanya di kantin Universitas Indonesia tempat mereka menimba ilmu, namun dagangan mereka juga merambah ke beberapa kantin universitas di Jakarta.

Sayangnya, saat masih menjadi “collegepreneur”, usaha mereka sering tak langgeng. Belum setahun berjalan, bisnis duo mahasiswa ini sudah harus harus gulung tikar. Tapi keduanya sepakat, meski menangguk rugi, pengalaman berbisnis ketika itu nilainya lebih mahal.

Bisnis Patungan

Sejatinya, saat itu, usaha kecil yang mereka jajal bukan hanya hasil patungan Hendry dan Baihaki. Melainkan juga dimodali kawan-kawan kampus mereka.

Ketika mereka lulus kuliah pada 2004, kawan-kawan Hendry dan Baihaki, yang semula menjadi pemodal bisnis, memilih bekerja kantoran. Sementara itu, naluri bisnis keduanya justru makin menggebu. Alhasil, setahun setelah menggenggam ijasah sarjana, keduanya merintis bisnis kuliner.     Mereka memilih menu bakmi setelah melalui serangkaian proses riset dan pertimbangan. “Data hasil riset yang kami dapat menyatakan bahwa mie adalah pilihan makanan setelah nasi. Dan Indonesia adalah negara pengonsumsi mie terbesar kedua setelah Cina. Dari situlah kami makin yakin akan potensi bisnis kuliner khususnya mie,” jelas Hendry. 

Tips Usaha Toko Aneka Souvenir

0 komentar

Anda memiliki hadiah-hadiah atau souvenir murah dari teman-teman anda yang masih bertumpuk dan tidak anda pakai. Kemudian tiba-tiba terbesit ide untuk menghadiahkan kembali hadiah tersebut kepada orang lain. Namun tentunya anda tidak ingin hal tersebut ketahuan. Coba ikuti tips-tips di bawah ini.
1. Pastikan hadiah atau 
souvenir murahyang akan anda berikan memang sesuai dengan orangnya dan tidak akan ketahuan bahwa itu merupakan hadiah yang pernah anda terima dari orang lain.
2. Pastikan hadiah atau produk unik yang akan ada berikan adalah sesuatu yang kira-kira dinginkan dan akan dipakai oleh orang tersebut. Jangan berikan barang-barang yang tidak akan dipakai atau sesuatu yang hanya akan dibuang. Namun jika hadiah yang akan ada berikan adalah sesuatu yang tidak anda gunakan tapi anda tahu orang ini akan menyukainya, jangan ragu-ragu untuk memberikan hadiah tersebut kepadanya.
3. Ingat-ingatlah hadiah atau produk unik yang pernah anda terima. Pastikan orang yang akan anda beri bukanlah orang yang telah memberikan hadiah itu. Tentu anda akan sangat malu jika hal itu terjadi.
4. Pastikan hadiah atau souvenir unik yang akan berikan dalam kondisi bagus. Jangan lupa memastikan anda membungkus hadiah yang benar. Jangan sampai hadiah atau aneka souvenir yang mereka terima ternyata ada stempel harga atau sudah retak / pecah. Periksa dengan benar hadiah yang akan anda berikan.
5. Copotlah semua bekas kertas bungkus kado atau souvenir unik yang lama yang menempel pada hadiah. Jangan sampai ada sisa-sisa bungkus kado atausouvenir yang menempel sehingga akan memberikan kesan kalau anda memberikan hadiah yang dihadiahi oleh orang lain. Pastikan tidak ada kartu ucapan ataupun isolasi/lem sisa bungkus kado. Bungkus dengan rapi hadiah yang akan anda berikan.
6. Apabila anda mengetahui hadiah yang anda terima ternyata hadiah atausouvenir tersebut adalah re-gift, sama seperti yang akan anda lakukan, jangan beritahu kepada si pemberi. Hargailah pemberiannya, karena ada berbagai kemungkinan kenapa si pemberi memberikan hadiah yang pernah ia terima. Bisa jadi si pemberi tidak mampu membeli hadiah atau mungkin memang hadiah atau aneka souvenir tersebut pantas untuk anda.
7. Apabila anda memberikan hadiah tersebut sebagai bercandaan, pastikan orang yang anda berikan akan menyadari hal itu sehingga tidak menyakiti perasaannya
 
Minima 4 coloum Blogger Template by Beloon-Online.
Simplicity Edited by Ipiet's Template