Dari ukuran keseriusan membuat film yang menggambarkan era 40-an,
film ini top punya. Suasana latar gedung-gedung, properti hingga kostum
benar-benar membawa kita kembali ke era itu.
Film ini misalnya, jauh melebihi trilogi film “Merah Putih” yang
disutradarai Yadi Sugandi. Di Merah Putih, pasukan Indonesia terlihat
ganteng-ganteng, rapih jali, bersih, dengan seragam tidak kotor, dan
persenjataan seperti pasukan yang sudah mapan. Nahh, di Soegija, para
laskar ini benar-benar mengambarkan tentara dari negara yang baru seumur
jagung. Mereka berkaos compang-camping, dekil, kumuh, telanjang kaki.
Sangat pas dengan gambaran tentara Indonesia masa itu.
Sayang, keunggulan film ini, buat saya hanya di situ. Cuma sampai membangun nuansa dan suasana 40-an.
Tetapi dari segi cerita, terus terang saya tidak menikmati film ini.
Seperti sayur yang terlalu banyak bumbu, begitulah kesan saya soal
Soegija.








